Dune (2021): Kisah “Imam Mahdi” Lintas Galaksi

Bacotin Film
3 min readNov 15, 2021

--

Poster Dune (2021) © Warner Bros

Dune telah lama dianggap sebagai novel yang mustahil untuk difilmkan.

“Ketakutan adalah pembunuh pikiran,” ucap Lady Jessica dalam Dune (2021). Kalimat itu seakan jadi nasihat tersendiri bagi sang sutradara, Denis Villeneuve untuk menggarap novel sci-fi 1960-an karya Frank Herbert itu.

Dune telah lama dianggap sebagai novel yang mustahil untuk difilmkan. Media audio visual dianggap tak punya kapasitas untuk mengadaptasi banyaknya materi dalam novel, tanpa harus mengorbankan detail-detail penting.

Singkatnya, kisah dalam Dune terlalu kompleks hingga sulit untuk diterjemahkan ke dalam film dengan durasi wajar. Dua sutradara telah membuktikannya di mana hasil karya mereka berakhir dengan kegagalan.

Alejandro Jodorowsky sempat punya visi gila tentang Dune pada medio 1970-an, tetapi proyek belasan jamnya itu berakhir jadi fosil tanpa pernah ditayangkan secara resmi.

Sementara sutradara David Lynch sempat menggarap kisah ini pada 1984. Filmnya berhasil tayang, tetapi mendapat banyak kritik lantaran terlalu ringkas hingga kehilangan banyak detail.

Di tengah bayang-bayang kegagalan sutradara terdahulu, Denis Villeneuve nyatanya berani mengambil kesempatan ini meski tahu reputasinya sebagai sineas jempolan jadi taruhan.

Dune menceritakan tentang Paul Atreides (Timothée Chalamet), seorang pemuda brilian yang lahir dengan “bakat” aneh. Dia digadang-gadang sebagai “The One”, “Messiah”, “Mahdi” atau “Lisan Al-Gaib”.

Pewaris tahta House Atreides ini harus melakukan perjalanan ke planet Arrakis, tempat tinggal kaum fremen — suku asli yang bermukim di planet gurun pasir nan tandus tersebut.

Paul pergi ke Arrakis saat dirinya mulai mendapatkan visi atau penglihatan misterius. Dia kerap memimpikan wanita dari kaum fremen yang belakangan diketahui bernama Chani (Zendaya).

Bersama seluruh anggota House Atreides, Paul datang ke Arrakis sesuai perintah kekaisaran untuk mengendalikan planet gurun kaya rempah-rempah, menggantikan penguasa sebelumnya yakni House Harkonnen.

Alih-alih menjadi berkah, penunjukan itu justru jadi awal petaka bagi House Atreides yang dipimpin ayah Paul, Duke Leto Atreides (Oscar Isaac) dan selirnya, Lady Jessica (Rebecca Ferguson).

Kaum Harkonnen yang terkenal brutal, tak terima harus angkat kaki dari planet yang dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi sumber penghidupan dan penghasilan utama mereka.

Rempah atau serbuk yang berada di planet Arakkis mungkin telah menjadi rebutan banyak House di semesta Dune.

Serbuk yang bisa membuat penghirupnya berhalusinasi itu juga merupakan satu-satunya bahan bakar kapal-kapal luar angkasa untuk bisa menjelajah galaksi.

House yang menguasai planet Arrakis jelas bakal sangat kaya raya lewat penjualan komoditas paling dicari tersebut.

Intrik politik — penjajahan, perebutan kekuasaan, dan sumber daya — yang dibalut elemen agama, menjadi konflik utama dalam Dune, dan Denis Villeneuve bisa dianggap cukup berhasil dalam menerjemahkannya ke dalam film.

Jika merujuk berbagai kesulitan yang telah dihadapi dua sutradara sebelumnya, hasil kerja Villeneuve setidaknya layak diapresiasi. Dune (2021) masih terasa kolosal meski dibangun lewat cerita yang begitu personal.

Sutradara Arrival (2016) dan Blade Runner 2049 (2017) itu dengan cerdas dan bijak menyajikan kisah ini hanya dalam satu garis cerita, menghindari percabangan konflik yang bakal membawanya menuju kegagalan versi Lynch.

Di sisi lain, dia juga mampu lolos dari perangkap boros durasi layaknya Jodorowsky yang bahkan sudah gagal sebelum filmnya tayang.

Dune (2021) dengan berani mempercayai pemahaman penonton untuk mengenali sendiri karakter-karakter di dalam filmnya, tanpa harus ‘menyuapi’ mereka dengan skenario pengenalan tokoh yang bertele-tele.

Pendekatan itu membuat Dune (2021) mengalir dengan lembut dalam balutan khas Villeneuve yang memadukan kesunyian ala Arrival dan sinematografi megah milik Blade Runner 2049.

Dune (2021) punya dimensi yang tegas sebagai sebuah film sci-fi yang tak hanya mengandalkan visual semata, tetapi juga kaya akan dialog dan alur cerita yang cerdas.

Villeneuve juga terbilang sukses memanfaatkan barisan karakter yang diperankan bitang Hollywood, mulai dari Duncan Idaho (Jason Momoa), Stilgar (Javier Bardem), Glossu Raben (Dave Bautista), hingga Gurney Halleck (Josh Brollin).

Kehadiran mereka di semesta Dune tak semata dijadikan sebagai alat menarik penonton, tetapi memang penting sebagai kesatuan yang mendukung jalan cerita.

Meski disajikan dengan tempo lambat, penonton harusnya tak akan kehilangan gairah menyaksikan film ini.

Denis Villeneuve menyajikan potongan demi potongan misteri secara perlahan sambil tetap menutup rapat konflik utama untuk bagian kedua filmnya.

Sebagai sebuah set-up untuk film keduanya yang akan tayang dua tahun mendatang, sepertinya sulit untuk menilai kerja Denis Villeneuve sekarang.

Pendekatan yang diambil sutradara berdarah Kanada-Prancis itu membuat film keduanya, “Dune: Part Two” berpotensi menjadi sebuah keberhasilan besar atau justru tercetak dalam sejarah sebagai bencana total.

8.0/10

Arief Apriadi

--

--

Bacotin Film
Bacotin Film

No responses yet